Semenjak suku Mandar
memisahkan diri dari wilayah Sulawesi Selatan dengan membentuk provinsi
baru, Sulawesi Barat pada tahun 2004, kelompok suku besar ini ternyata
masih dianggap sebagai bagian besar dari keluarga Sulawesi Selatan.
Puluhan tahun keempat komunitas suku besar dahulu, yaitu Makassar,
Bugis, Mandar serta Toraja ini berinteraksi dalam satu provinsi Sulawesi
Selatan dengan luasan wilayah yang cukup besar membentang dari wilayah
utara ke selatan. Jika anda melihat wilayah Sulawesi Selatan saat
Sulawesi Barat belum terpisah maka daerah Sulsel menguasai kaki huruf
“K” pulau Sulawesi.
Suku Mandar yang
dominan menghuni wilayah provinsi Sulawesi Barat semenjak terpisah
ternyata masih dianggap sebagai bagian keluarga di Sulawesi Selatan.
Salah satu bukti nyata yang dapat disaksikan di Kota Makassar tepat di
kawasan Pantai Losari adalah dibangunnya anjungan Mandar-Toraja yang
terletak mengapit anjungan Pantai Losari bersama anjungan
Bugis-Makassar. Salah satu konten budaya Mandar yang dapat ditemukan di
kawasan ini adalah setidaknya merujuk pada empat benda pertama tulisan
Mandar yang berukuran besar dengan tinggi sekitar 1,5 -2 meter, kedua
patung seorang wanita tua yang sedang menenun (manetteq) sutera “saqbe
Mandar”, ketiga seorang penari yang menggunakan kostum adat, serta
keempat rumah adat Mamasa yang bentuk cungkupnya mirip dengan rumah adat
Toraja.

Menarik melihat konten
budaya Mandar ini di “Kota Daeng”, walaupun wilayah Sulawesi Barat cukup
jauh dari Sulawesi Selatan namun anda masih dapat menikmati potret
budaya ini di kawasan Pantai Losari, karena konten budaya dalam wujud
patung “replika” berukuran raksasa ini cukup jarang ditemui, pun itu di
wilayah Mandar sendiri.
Patung panetteq yang sedang melakukan aktivitas merapatkan benang sutera di anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari Makassar
Salah satu yang cukup
unik adalah sebuah patung berukuran raksasa yaitu seorang wanita tua
yang sedang melakukan proses “manetteq” atau menenun. Patung yang
berukuran tidak biasa ini berada di sisi kiri anjungan Mandar dengan
dimensi sekitar 1,5-2 meter dibuat dengan struktur yang cukup detail
dan menggambarkan salah satu proses menenun saat merapatkan helaian
benang menjadi rapat dengan alat penenun.
Detail alat tenun Mandar yang terdapat pada Patung panetteq di anjungan Mandar Pantai Losari Makassar
Patung panetteq di anjungan Mandar-Toraja Pantai Losari Makassar berlatar suasana sore
Patung seorang wanita tua yang sedang menenun saqbe (sutera) di anjungan Mandar Pantai Losari Makassar
Menenun sutera atau
“manetteq saqbe” di Mandar merupakan kegiatan yang biasa dilakukan oleh
kaum wanita, mulai dari usia gadis, remaja, hinga wanita dewasa untuk
membuat sebuah sarung sutera. Di komunitas nelayan menenun sarung sutera
merupakan kegiatan yang dilakukan oleh istri para nelayan saat suami
mereka berlayar, potret budaya “sibali parriq” atau senasib
sepenanggungan yang dimiliki oleh suku ini. Kegiatan menenun dalam
posisi ini sedikit mampu menambah alternatif penghasilan ekonomi
keluarga, sembari sang suami mencari penghidupan di laut dengan
menangkap ikan.
Di daerah Mandar sarung sutera dibuat dengan cara memasak benang sutera menggunakan dedaunan (pewarna alami), dicuci bersih kemudian digulung lalu ditenun. Pada umumnya sarung sutera Mandar ini memiliki warna yang tidak cerah dan cenderung gelap. Jenis warna yang dihasilkan misalnya warna hitam, merah tua, serta coklat tua. Warna ini dipengaruhi oleh penggunaan pewarna yang dimasak bersama dengan benang, karena itu ia tidak mudah luntur. (Sewang, 2001)
Di daerah Mandar sarung sutera dibuat dengan cara memasak benang sutera menggunakan dedaunan (pewarna alami), dicuci bersih kemudian digulung lalu ditenun. Pada umumnya sarung sutera Mandar ini memiliki warna yang tidak cerah dan cenderung gelap. Jenis warna yang dihasilkan misalnya warna hitam, merah tua, serta coklat tua. Warna ini dipengaruhi oleh penggunaan pewarna yang dimasak bersama dengan benang, karena itu ia tidak mudah luntur. (Sewang, 2001)
Jika merujuk pada
sejarah sarung sutera tenun Mandar, dahulu hanyalah digunakan oleh
keluarga para raja dan bangsawan. Bahkan kemudian dikatakan jika sarung
sutera dapat membedakan status sosial seseorang di masyarakat. Namun
seiring dengan perkembangn zaman, sarung sutera tidak hanya terbatas
pada kalangan raja dan bangsawan tetapi lebih luas penggunaannya, biasa
digunakan untuk acara-acara yang berhubungan dengan kegiatan budaya
misalnya untuk acara pernikahan, khatam Al Quran, acara-acara adat dan
merupakan suatu symbol dan identitas yang menunjukkan kekhasan suku
Mandar.
Sarung Sutera memiliki
corak ataupun motif yang biasa disebut sebagai “sureq” terdapat dua
sureq yang sangat terkenal dan termasuk sureq tradisional, diantaranya
yaitu “sureq padzadza” dan “sureq salaka”,tetapi karena tuntutan inovasi
maka kemudian saat ini sureq-sureq tersebut berkembang menjadi lebih
beragam bentuknya. Terdapat beberapa sureq yang merupakan hasil inovasi
(pengembangan) lebih lanjut.
Menurut penelitian yang
dilakukan oleh Bahrum 2008, terdapat kurang lebih 60 nama sureq yang
terdapat di Mandar (corak tradisional, pengembangan, dan kontemporer).
Nama-nama corak tersebut diantaranya yaitu :
Corak (sureq) Tradisional:
– Corak Salaka
– Corak Padzadza (parara)
– Corak Batu Darima
– Corak Taqbu
– Corak Aroppoq
– Corak Pandeng
– Corak Pangulu
– Corak Puang Lembang
– Corak Benggol
– Corak Jangang-jangang
– Corak Ragiwasa
– Corak Tunggeng
– Corak Loang
– Corak Beruq-beruq
– Corak Bataq Giling
– Corak Giling Kanaiq
– Corak Kaiyyang
– Corak Marica
– Corak Maraqdia
Sureq Perkembangan– Corak Salaka
– Corak Padzadza (parara)
– Corak Batu Darima
– Corak Taqbu
– Corak Aroppoq
– Corak Pandeng
– Corak Pangulu
– Corak Puang Lembang
– Corak Benggol
– Corak Jangang-jangang
– Corak Ragiwasa
– Corak Tunggeng
– Corak Loang
– Corak Beruq-beruq
– Corak Bataq Giling
– Corak Giling Kanaiq
– Corak Kaiyyang
– Corak Marica
– Corak Maraqdia
– Corak 710
– Corak Karaeng
– Corak Parara alleq bunga
– Corak Saripa
– Corak Salaka Taqbu-taqbu
– Corak Wiranto
– Corak Kucing Garong
– Corak Sandeq
– Corak Sulbar
– Corak Kapala Daerah
– Corak Komandan Kodim
Adapun bagian-bagian
alat tenun untuk membuat sarung sutera Mandar diantaranya yaitu pawaloq
(untuk penahan benang), kalapa (menyusun dan merapatkan benang), aleq (
memanik atas bawah ), awerang / bambu (pengatur benang atas bawah )
passo ( penggulung hasil jadinya lipaq saqbe). Sementara untuk
pembuatannya dilakukan dalam tiga tahapan yaitu mulai dari kalapa (
menyusun benang dan merapatkan ) lalu di masukkan ke pawaloq, pemindahan
benang yang telah disusun atau papan depan, kemudian di tetteq atau
proses akhir penggabungan benang hingga menjadi sarung Mandar. (Anonim,
2012)
GAMBAR SARUNG SUTRA
Bisa bagi gambar dan penjelasannya??
BalasHapus